RESUME SEMINAR NASIONAL 2012
IFRS FOR ACCOUNTING “EASY TO COMPREHEND, EASY TO
IMPLEMENT”
IFRS
atau International Financial Reporting Standars merupakan standar akuntansi
internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board
(IASB) dan sudah digunakan lebih dari 100 negara di dunia termasuk Cina,
Hongkong, Rusia, dan negara – negara Eropa dibawah yuridiksi Uni Eropa.
Standar
Setter di Indonesia sendiri disusun oleh Dewan Pengurus Nasional (DPN), Dewan
Standar Akuntansi Keuangan (DSAK), Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan
(DKSAK), Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) dan technical staff.
Tujuan
IASB
·
Mengembangkan
standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dimengerti, yang
transparan, dan comparable information untuk membantu pelaku pasar modal
berbagai dunia dan pengguna lainnya dalam mengambil keputusan ekonomi.
·
Mendorong
penggunaan dan penerapan yang ketat dari standar tersebut
·
Untuk memenuhi
kebutuhan 1 dan 2 di atas, harus memperhitungkan kesesuaian kebutuhan khusus
dari entitas kecil dan menengah dan negara – negara berkembang
·
Membawa
konvergesi standar akuntansi dengan IFRS sebagai solusi berkualitas tinggi
Dengan
adanya IFRS ini mendatangkan sejumlah manfaat antara lain: memudahkan pemahaman
atas laporan keuangan dengan penggunaan Standar Akuntansi Keuangan atau
enchance comparability, meningkatkan arus investasi global melalui transparasi,
menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penggalangan dana melalui pasar
modal secara global dan menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan yang
sekarang tidak perlu membuat dua laporan keuangan.
Adapun
latar belakang adanya konvergensi IFRS adalah karena konvergensi IFRS adalah
salah satu kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota G20 forum dan untuk
memenuhi kebutuhan yang dapat memudahkan perusahaan dalam melakukan aktivitas
secara internasional. Selain itu standar ini muncul akibat tuntutan globalisasi
yang mengharuskan para pelaku bisnis di suatu negara ikut serta dalam bisnis
internasional. Untuk itu diperlukan suatu standar internasional yang berlaku
sama di semua negara untuk memudahkan proses rekonsiliasi bisnis.
Laporan
keuangan berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi dengan laporan keuangan
berdasarkan IFRS dan pada akhirnya laporan auditor menyebut kesesuaian dengan
IFRS, maka dari itu diperlukan adanya konvergensi IFRS.
Target
konvergensi IFRS di Indonesia adalah merivisi PSAK signifikan sesuai dengan
IFRS per 1 Januari 2009 yang akan efektif pada 2011 atau 2012. Dalam rangka
mencapai target tersebut DSAK IAI menggunakan pendekatan big bang. Pada tahun
2012, laporan keuangan berdasarkan SAK tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan
dengan laporan keuangan berbasis IFRS.
Konvergensi
IFRS di Indonesia dilakukan secara bertahap. Di mulai pada tahap adopsi pada
tahun 2008 – 2011 yaitu meliputi kegiatan adopsi seluruh IFRS ke PSAK,
Persiapan infrastruktur yang diperlukan dan evaluasi dan kelola dampak adopsi
terhadap PSAK yang berlaku. Kemudian tahap persiapan akhir yang dilakukan pada
tahun 2011 yaitu penyelesaian persiapan infrastruktur yang diperlukan. Tahap
terakhir adalah implementasi pada tahun 2012 yang meliputi penerapan pertama
kali PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS dan evaluasi dampak penerapan PSAK
secara komprehensif.
Karakteristik
IFRS :
·
Penerapan
principle bae dalam semua standar
·
Principle based
meliputi : memperkecil kemungkinan rekayasa keuangan, lebih mengedepankan unsur
substansinya.
·
Laporan keuangan
sudah tidak menggunakan hstorical cost, namun mengarah ke fair value yang lebih
relevan
·
Pengungkapan
lebih luas
·
Pengendalian
·
Resiko dan
manfaat
Entitas
pengguna PSAK berbasis IFRS adalah perusahaan go publik, entitas di bawah
pengawasan Bapepam-LK, dan badan usaha milik negara (BUMN).
Analisis
dampak konvergensi adalah pengukuran :
1. Peningkatan penggunaan nilai wajar
Standar IFRS condong ke pengguna nilai
wajar terutama untuk properti seperti investasi, beberapa aset tak berwujud,
aset keuangan.
2. Penggunaan estimasi dan pertimbangan profesional
Karena karakteristik IFRS lebih berbasis
prinsip, akan lebih banyak dibutuhkan “judgement” untuk menentukan bagaimana
suatu transaksi keuangan dicatat.
3. Analisa laporan keuangan
4. Bagian yang tidak terpisahkan dalam bisnis
5. Perlakuan akuntansi dalam menyusun laporan keuangan
6. Persyaratan pengungkapan yang lebih banyak dan lebih
rinci
IFRS mensyaratkan pengungkapan berbagai
informasi tentang resiko baik kualitatif maupun kuantitatif, seperti :
-
Resiko kredit,
likuiditas, tingkat bunga, nilai tukar dan harga (PSAK 50 & PSAK 60)
-
Aset
identifikasi dan imbalan intijensi (PSAK 22)
-
Pihak – pihak
berelasi (PSAK 7)
Pengungkapan dalam laporan kuangan harus
sejalan dengan data informasi yang dipakai untuk pengambilan keputusan yang
digunakan oleh manajemen.
bgaimana
dan mngapa perusahaan listing hrs membuat lap keu yg mengacu konvergensi IFRS
Perusahaan
listing harus membuat laporan keuangan yang mengacu kepada IFRS karena Eropa
mengembangkan pemakaian IFRS yang dapat digunakann di negara berkembang, dunia
usaha menjadi lebih global dan mulai menyadari pentingnya membangun standar
umum di segala bidang financial reporting, dan saat ini sistem IFRS telah
digunakan di lebih dari 100 negara di dunia.
Implementasi
perusahaan listing di Indonesia sendiri dilakukan dengan menghadapi tantangan
berat pengadobsian full IFRS, menggunakan laporan keuangan yang mengacu kepada
IFRS disamping menggunakan standar akuntansi yyang berlaku di Indonesia dan
karena IFRS telah di akui secara global maka pelaksanaan terhadap perusahaan
akan meningkatkan kepercayaan investor dan pemahaman mengenai laporan keuangan.
Dampak
penerapan PSAK – IFRS terhadap standar audit di Indonesia adalah tanggal
berlaku efektif entitas dengan kepentingan publik – audit atas laporan keuangan
yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2013 dan entitas selain
entitas dengan kepentingan publik yaitu audit atas laporan keuangan yang
dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2014.
Berikut
hal – hal signifikan yang berdampak pada proses audit, yakni :
1. Dokumentasi audit
2. Audit atas estimasi akuntansi
3. Evaluasi atas kesalahan penyajian
4. Penggunaan pekerjaan pakar auditor
5. Audit atas pihak berelasi
6. Komunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas
tata kelola
7. Audit atas laporan keuangan grup
No comments:
Post a Comment